Mengikuti Jejak Islam Nusantara di Ampel Surabaya

Peziarah makam Sunan Ampel, begitu khusuk berdoa

Naskah : Fajjar Nuggraha
photo by Fajjar Nuggraha

Sejarah Islam di Indonesia / Nusantara memang menarik untuk disimak. Sejarah panjang Muslim di Nusantara, diawali Islam masuk pertama kali di Samudra Pasai sekitar abad ke-13, Wali Songo yang kharismatik, kisah Jendral Sudirman sang Panglima shalih yang memiliki jiwa spritual keislaman tinggi, hingga organisasi umat muslim terbesar di Indonesia, layaknya NU dan Muhammadiyah, tidak lupa Muslim Tionghoa Nusantara, dan serambi mekkah di Aceh menambah keluarbiasaan muslim di Nusantara. Wajar jika negeri ini berpenduduk dengan jumlah populasi muslim terbesar di Indonesia, jauh di atas negara-negara para nabi dan rasul di Timur Tengah.
====================================================================
Ampel Pusat Agama dan Ekonomi
====================================================================
Menilik jalur masuk Islam di Nusantara, banyak para alim ulama yang menyebarkan agama Islam melalui jalur perdagangan. Selain itu banyak juga ulama yang berdatangan memang bertujuan untuk mengajarakan ketauhidan. Namun tidak dapat dipukiri jalur perdagangan memegang peranan kuat dalam penyebaran agama Islam. Tiga belas abad yang lampau, para pedagang dari arab, gujarat, persia, dan india berdatangan ke Nusantara ini yang memang memiliki pesona dan daya tarik di jamannya. Yah, rempah-rempah dan hasil bumi lah yang membuat para ulama dan pedagang itu berdatangan. Tidak hanya para pedagangan ini yang berdatangan, namun kaum penjajah kapitalis pun tergiur untuk berdagang dan menguasai Nusantara kala itu. Portugis, Spanyol, Belanda, dan Jepang dari segilinti bangsa barat yang memiliki sejarah panjang bersama Indonesia.
Menarik memang jika mengikuti sejarah Islam Nusantara, namun 10 jilid buku tidak akan cukup untuk merampungkannya saya kira. MOD berusaha untuk mengikuti salah satu jejak Muslim Nusantara, salah satunya melalui reportase langsung di daerah Ampel Denta Surabaya. Mendengar nama"Ampel" mungkin pembaca bisa langsung menembak. Yup! anda benar kali ini kita menyajikan keberagaman lokasi wisata religius Sunan Ampel. Ampel Denta sendiri berada di Ujung utara kota Surabaya, wilayah yang dihadiahkan Majapahit pada abad ke-15 ini dikelola oleh Raden Rahmat (Sunan Ampel) menjadi tempat pusat pendidikan agama Islam dan pusat ekonomi di Nusantara kala itu. Tidak hanya santri dari Nusantara yang berdatangan ke ampel kala itu, tetapi banyak juga santri dari mancanegara yang ingin menuntut ilmu di wilayah tertua di Surabaya ini. Sunan Ampel sendiri diperkirakaan wafat sekitar tahun 1481 M, dan dimakamkan di sebelah barat Mesjid Sunan Ampel. Kini ampel menjadi ikon kota Surabaya, yang wajib dikunjungi jika berkunjung ke kota pahlawan. Ampel juga merupakan pasar tertua yang menjual berbagai barang kebutuhan beribadah misalnya tasbih, baju takwa mukena, minyak wangi, poster-poster dan sounvenir berbau Arabic, serta makanan khas Arab seperti gulai, nasi kebuli, kurma, air zam-zam.
====================================================================
Komunitas Arab juga bagian dari Islam Nusantara
====================================================================

Banyak barang dan makanan yang khas Arab ini disebabkan mayoritas penduduk Ampel berasal dari etnis Arab. Jejak Islam Nusantara terasa di perkampungan ini, bukti bekas-bekas imigran dari negeri timur tengah memang ada dulunya di Ampel, ini terlihat dari para keturunan mereka yang bermukim di Ampel. Darah saudagar para pendahulunya menurun hingga kebeberapa generasi. Akan semakin terlihat ketika kita memasuki wilayah pasar Ampel, selain warga pribumi, banyak etnis Arab yang berjualan di pasar ini. Kebanyakan dari mereka berjualan kurma, kitab, kain dan sarung, hingga pengusaha makanan. Komunitas keturanan arab ini setidaknya menjadi bukti keunikan Islam Nusantara. Tidak hanya itu, mereka juga merupakan bagian dari Islam Nusantara, karena telah lahir, besar, hidup, makan-minum, dan melakoni hari-hari di negeri Indonesia tercinta ini. Oleh sebab itu jangan heran, jika anda berkunjung ke ampel dan menemukan keturunan Arab yang berbahasa khas arek suraboyo, suroboyoan seakan-akan sudah melupakan bahasa negeri leluhurnya. Bahkan saya berani bertaruh, bahasa arab mereka tidak sebagus bahasa arab teman saya labiburahman, yang memiliki nama kearab-araban, namun asli trenggalek ini.
Gara-gara teman saya yang satu ini, saya jadi mengunjungi Ampel untuk pertama kalinya. Cerita ini bermula ketika mahasiswa Teknik Informatika ITS ini mengajak berkunjung ke Ampel untuk mencari kaset bimbingan MTQ. Labiburahman hampir tiap tahunnya sering mewakili daerahnya, sekolah, dan ITS dalam perhelatan MTQ. Mungkin untuk mempersiapkan diri lebih matang, pria yang gemar nonton anime ini mencari koleksi-koleksi bimbingan tilawah Al-Quran yang sangat sulit ditemukan di toko-toko kaset biasa. Akhirnya diputuskan juga mencari ke Ampel, saran juga bagi para pembaca yang ingin mencari segala sesuatu yang berbau islam ada disini, apapun. Mulai dari kitab-kitab, hingga kaset bimbingan MTQ yang sangat langka. Untung mas Labib bertemu Bapak Farhad sang penjual kaset keturunan arab, ternyata pria yang telah berjualan kaset 2 tahun lebih ini memiliki kaset yang dicari mas labib. Setelah berputar kesana-kemari, ternyata barang yang dicari ditemukan juga. Namun karena keterbatasan dana, koleksi-koleksi tersebut tidak dapat dimiliki mas Labib secara lengkap, mungkin menutupi rasa kecewanya redaktur ITS Online yang satu ini bernarsis ria sebelum pulang ke kampus perjuangan.
Suasana religius yang kental memang mewarnai ampel dibandingkan daerah lain termasuk ITS saya kira, banyak pengunjung ampel selain berbelanja juga melakukan ziarah kubur ke makam sunan Ampel. Mereka ada yang datang berombongan sendirian, muda-tua,kaya-miskin, bahkan yang berwajah preman dan garang pun menjadi luntur dan lembur, membacakan surat Yasin didepan makan sang Sunan. Ketika waktu salat tiba, masyarakat setempat langsung bergegas menutup toko dan menuju mesjid, memang masih banyak yang tidak mempedulikan kumandang azan, namun setidaknya suasana di pasar hening untuk sesaat apabila waktu salat tiba. Setiap selesai mahgrib, ada wejangan-wejangan dan nasehat yang diberikan alim ulama disana ke para pengunjung dan warga ampel. Biasanya ceramah ini disampaikan dengan menggunakan bahasa Jawa. Ada juga yang memutuskan untuk membaca Al-Quran di tokonya, hingga membuat suasana ampel terasa sejuk. Meskipun ampel beratapkan atap berbahan fiber yang membuat gerah dan resah pengunjungnya.
====================================================================
Kuliner di Ampel.....nyami...lezat banget pemirsa...
====================================================================
Puas berjalan-jalan dan menyambangi toko- toko, perut pun menjadi lapar. Memang tidak afdhol jalan-jalan ke tempat menaril, kalau ga makan, makanan yang makyus . Toh dengan makan kita juga mengikuti bukti Islam Nusantara, ngawur mode:on, kuliner Nusantara iya?hehehhehe. Sebenarnya binggung mau makan apa? makan nasi kebuli takut kemahalan, pilihan tempat pun kadang membuat kami ragu (saya dan Labiburahman). Bertanya pun tidak ada hasil, lengkap sudah yang kita tanya mulai dari penjual kurma hingga tukang becak. Pertanyaan kita kala itu," Bu, Pak tau tempat makan enak nan Murah?...
Mungkin para narasumber kita ini kebinggungan mikir cari tempat makan enak yang murah dimana. Kira-kira dalam hati mereka bergumam," arek iki ga modal ta piye, jalu enak pengen murah,"
Jawaban dari narasumber- narasumber tersebut tidak menyelesaikan masalah, akhirnya dengan perasaan deg-degan kita memilih warung sedayu 69. Masuk ke tenda makannya pun kita kebinggungan mau pesan apa, namun dengan cepat pilihan kita waktu itu adalah sate dan gulai. Dikarain sate dan gulai kambing yang disajikan ternyata sate dan gulai sapi yang kita lahap waktu itu. Kondisi perut memang lagi global warning, lihat hidangan lezat ini pun kita ga pakai mikir dua kali langsung saja dilahap, hingga tak bersisa. Di suapan pertama dan gigitan pertama pada daging sate yang kita makan terasa banyak kalau dagingnya empuk apalagi bumbu kacang yang unik juga membuat makanan ini manyuss permisa. Begitu juga dengan daging gulainya waduh lezat nian. Bisa dilihat kondisi piring kita yang seakan-akan ingin memamerkan betapa lezatnya makanan ini. Sedayu 69 sendiri berumur sesuai dengan angka yang dijadikan nama warung makan ini, yah sudah 69 tahun warung makan yang dikelola keluarga pak Maderi berdiri di Ampel. Wajar kalau makanan yang ada terasa perbedaannya dibandingkan makanan serupa yang saya makan ditempat lain. Dengan hanya mengeluarkan uang Rp 13.000 kita bisa menyatap satu porsi sate dan gulai beserta teh hangat. Sedayu 69 bisa menjadi pilihan pembaca setia MOD jika berkunjung ke Ampel Denta, Surabaya.
Cukup sekian yang bisa MOD sajikan, dilain kesempatan MOD akan mengangkat sisi lain dari perkampungan Ampel yang tidak akan habis di jelajahi layaknya menguak keberadaan Islam Nusantara di Indonesia.
Berikut beberapa foto hasil liputan langsung di Ampel, silahkan dinikmati :

Atap Masjid Sunan Ampel, Khas Islam Nusantara
berbeda dengan masjid-masjid di Timur Tengah yang kebanyakan berkubah


Lorong di Masjid Sunan Ampel


Al-Quran nur kalim tersaji rapi di Masjdi Ampel


Bedug bukti keunikan Islam Nusantara yang tidak ditemukan di negara Timur Tengah


Salah satu sudut pintu Masjid Sunan Ampel


Pintu gerbang menuju kompleks Pemakaman Sunan Ampel


Peziarah duduk khusuk mengirimkan doa dan membaca ayat-ayat suci Al-Quran


Ziarah kubur salah satu kebudayaan religius yang ada di Nusantara


Kompleks ini dipenuhi dengan nisan-nisan yang mungkin sanak kerabat dari Sunan Ampel
Nisan digunakan sebagai petanda kubur dari seorang muslim di Indonesia


Arsitektur Nusantara terlihat kental di bangunan-bangunan sekitar Masjid


Kurma menjadi buruan wajib pengunjung pasar Ampel


Ini dia gulai sama sate sapi yang manyuss
Sedayu 69 top markotop!!!!


Bukan sulap-bukan sihir...
ludes, lenyap, hilang tak bersisa


ehmmm pak tukang becak numpang tenar euuyyy
nyadar kamera juga ni orang


Pak Mo, Generasi Ketiga pemegang tahta dinasti Sedayu 69


Suasana di Ampel ketika Senja


Senja tiba, masyrakat Ampel bergegas menuju masjid



Jalan Salak, pusat Kitab dan buku agama yang lengang
Toko-toko akan buka kembali selepas mahgrib



Kurma dari segala penjuru jazirah Arab
emang rasanya beda?


Pak farhad sang penjual kaset


Dua kaset bimbingan MTQ yang berhasil dibawa pulang mas Labib


Tidak hanya kaset agama, ternyata di arab ada house music juga
waduh-waduh.....


Toko kitab di Jalan Salak, Ampel


Pernak-pernik dan poster-poster alim ulama


Labiburahman dengan jaket angkatan bepose ria di outlet saouvenir arabian


Mengaji dikala waktu senggang


Ceramah agama di Masjid Ampel


Suasana Ampel di malam hari


Ternyata ketemu juga ma tukang ramal
jasa konsultasinya komplit pula


Sang tukang ramal dari Ampel
berbeda yang ditemukan sama bang ayoz di hifatlobrainnya


Penawaran yang cukup adil ga?
hehehehhehehehehe


Perjalanan pun berakhir dengan melewati gerbang masuk ini


Di luar gerbang telah tersedia jasa tukang becak
sayangnya saya bawa motor pak! ga penting banget sih...
====================================================================
Semoga foto-foto dan tulisan di atas bisa memberikan informasi dan manfaat yang baik buat pembaca setia MOD, catatan dari redaksi dan permohonan maaf sebesar-sebesarnya, posting kali ini tidak dilengkapi dengan wajah-wajah cantik gadis arab...halah...takut disuruh nikahin ma bapaknya....ehhehehehhehehehehe.
sampai jumpa di posting selanjutnya....

Comments

"bahasa arab mereka tidak sebagus bahasa arab teman saya labiburahman, yang memiliki nama kearab-araban, namun asli trenggalek ini"

Ah Jar, kamu itu terlalu berlebihan. Lha wong kene lho bahasa Arabe mung asal ngablak. Entah ngerti opo nggak.

Eh, btw kapan2 klo mo nulis aku jangan terlalu diumbar yooo. Aku da misi iki. Yen konangan disik ga' lucu la'an. :D
aklam said…
uuh aku suka liputan yang ini, dibuat dengan riset yang penuh kesungguhan, mantap jarrr...
insting foto kamu tambah sip, harus lebih sering hunting lagi...
fajjar_nuggraha said…
@Dzakiy...
hehehehhehe...
akibat dari kebanyakan aksi didepan kamera...
mau gimana lagi mas....
lain kali, kita kesana lagi...
fajjar_nuggraha said…
@aklam
terimakasih gan..
ini masih terus belajar...
btw atas saran buat postingnya yang di belakang panggung
Zayn Zesha said…
hohoooooo
oke Jar
jadi ngiri nih
tyzha said…
ealah bang.. dua tahun yang lalu dikau merantau dia surabay blum sekalipun kah dikau menyentuh ampel?boi..boi..


btw emang satenya ampel enak haha! gada yg ngalahin sate kambingnya sip sip..
LoeThpiE said…
Hampir 3 tahun aku ga kesana jar, tambah rame ga ya? Kuburannya sunan Ampel sama kyai Soleh masih utuh to??????? taku diapa-apain sama HFLB, wkwkwkwkwkkk.........
fajjar_nuggraha said…
@loetphie
masih utuh, tuh lengkap tak cacat sedikit pun........
hehehehehhehe

Popular posts from this blog

Foto-Foto Terlarang Hindia Belanda

Green Street Hooligans, Bonek

Sunrise of Java, Banyuwangi