Perubahan Itu Cepat



Masih ingat posting MOD mengenai Pangkalan Bun dengan tajuk Pangkalan Bun, Kampung Halamanku, waktu itu MOD menampilkan foto udara kota Pangkalan Bun tepatnya sekitar rumah penulis. Berdasarkan analisa ketika itu foto udara yang didapatkan MOD melalui wikimapia ini diambil sekitar tahun 2004 hingga 2005. Terlihat dengan sangat jelas lingkungan sekitar rumah penulis masih hijau, asri dan segar. Namun kenyataan berbalik 180 derajat, ketika tiba di Pangkalan Bun dan beristirahat sejenak, saya memutuskan untuk kembali menapak tilasi area jogging yang saya janjikan di posting saya yang sebelumnya. Kaget bukan kepalang ketika memasuki jalan yang biasa kita panggil dengan jalan kopong, cukup aneh bukan nama jalannya. Tapi nama jalan ini tidak sembarangan, kopong diambil dari nama tokoh masyarakat Pangkalan Bun yang berasal dari suku Dayak. Nama seorang Petani ini diabadikan dikarenakan jasanya yang mewakafkan seluruh tanahnya untuk dibangunkan Sekolah. Sekolah ini yang berada di ujung jalan yang dulunya masih dikelilingi hutan dan pemandangan hutan tropis. Kembali ke perihal kekagetan saya ini, jalan yang dulunya nyaman untuk dijadikan track berjalan-jalan kecil ini, menjadi penuh debu. Debu yang berasal dari pengerukan tanah yang digunakan untuk membangun Jembatan Kotawaringin. Tidak kurang dari berpuluh2 truck melintasi area jogging saya ini. Jika ada truck yang pergi mengangkut tanah dan pasir, maka tidak sampai semenit kemudian truck lainnya berdatangan. Benar-benar mengganggu untuk melakukan kegiatan olahraga.
Penasaran saya pun mengikuti arah dari kedatangan truck ini, sontak terkaget-kaget setelah saya mengetahui asal berdatangannya truck, pemandangan layaknya lokasi pengerukan yang ada di Papua ada di depan mata saya. Walaupun tidak parah-parah banget. Penulis ingat sekali titik lokasi ini adalah bukit yang cukup asri, namun sekarang tinggalah kroakan tanah putih dengan debu yang pekat, seakan menandakan ada kegiatan dahsyat yang hadir disana. Kenapa pembangunan selalu menyisakan kerusakan seperti ini. Pasir putih dan tanah yang diambil di area ini digunakan untuk menimbun daerah rawa yang ada di seberang jembatan Kotawaringin, yang merupakan mega proyek dari Pemda Kotawaringin Barat. Jembatan yang nantinya membuat warga Kotawaringin Barat dan Kotawaringin Lama bisa saling menyebrangi melalui jalur darat, tidak lagi mengandalkan transportasi sungai dengan menggunakan speed boat. Bahkan tidak hanya itu kedepannya melalui jalur jembatan ini maka Kalimantan Tengah dan Kalimantan Barat dapat ditempuh dengan jalur Darat.
Pikiran jahat saya sempat terbersit di kepala sewaktu mengetahui truck dengan dominasi warna putih ini berplat BM, tentu pikiran saya langsung tertuju ke mas Emal yang sedang magang di SBY." la Koq platnya semua BM, apa singapura mau ngeruk pasir di sini juga," tapi dipikir-pikir juga ga mungkin. Asal pembaca ketahui plat BM ini berasal dari Riau daratan, seperti itulah ketika mas Emal memberitahu saya. Usut punya usut keberadaan truck ini memang untuk membantu pengerjaan proyek jembatan Kotawaringin.

======================================================================
Jembatan yang akan menjadi Harapan Baru Kotawaringin Barat
======================================================================
Jembatan yang mulai dibangun pada tahun 2000an ini akhirnya telah rampung juga secara konstuksi. Jembatan ini telah dapat dilewati oleh kendaraan berat seperti truck dan kendaran beroda dua serta lebih. Pembangunan proyek ini tinggal lah menyisakan bagian yang berada disebelah Kotawaringin Lama. Jembatan ini jika dibandingkan dengan jembatan suramadu yang menghubungkan Surabaya dan Madura tidaklah berarti apa-apa. Namun bagi masyarakat Kalteng ini menjadikan Jembatan Kotawaringin ini menjadi harapan baru rakyat Kobar (kotawaringin Barat) terutama yang berada di Kotawaringin Lama. Bukan menjadi rahasia lagi, jika perkembangan daerah di kalimantan pada umumnya menjadi terhambat disebabkan sulitnya jaringan transportasi antara daerah yang satu dengan lainnya. Warga Kotawaringin Lama selama ini hampir hidup terisolasi, mereka tidak mendapatkan fasilitas yang memadai seperti yang didapatkan di Kotawaringin Barat. Untuk menuju ke ibu kota kabupaten saja, setidaknya 60 ribu rupiah harus mereka rogoh jika menggunakan speed boat untuk membeli kebutuhan hidup. Jika proyek ini telah rampung tentunya penyatuaan visi dan misi akanlah semakin mudah, selain itu penularan kehidupan sosial yang positif seperti pendidikan dan ekonomi dapat mereka dapatkan.
Selain itu jembatan di kalimantan tengah khususnya terkadang menjadi pusat keramaian dimana terdapat hiburan, wisata, dan ekonomi. Seperti yang mungkin bisa kita temui dijembatan Kahayan di Palangkaraya Ibu kota Propinsi Kalimantan Tengah. Jembatan Kotawaringin ini pun tidak kalah pesona alamnya, banyak penduduk sekitar menghabiskan waktu di jembatan ini. Dari yang sekedar duduk sambil menikmati senja, hingga yang menyalurkan hobby memancing. Memang masih banyak yang harus dibenahi dari Jembatan kotawaringin, namun setidaknya ada secercak harapan baru yang lahir dari jembatan yang menyatukan dua daerah yang dulunya berada dibawah kekuasan kerajaan Kotawaringin ini.

Cukup sekian liputan dari MOD, edisi khusus Pangkalan Bun Kota Manis akan masih terus berlanjut di posting yang akan datang. Tetap kunjungi MOD, tidak mengunjungi MOD sehari saja bisa menyebabkan gatal2, kemandulan, dan kanker rahim.
Berikut MOD sajikan beberapa foto yang menggambarkan perubahan pesat dari kondisi area jogging dan jembatan Kotawaringin.


Gubuk ditengah lubang hasil kerukan


Truck menunggu antrian disi oleh Tanah dan Pasir
nb: yang berwarna Putih bernomor Plat BM


Masih dilokasi jogging, kegiatan warga setempat yang membajak tanah


Bunga di tepi Jalan, diantara ilang-lang pula

=====================================================================
Menengok ke Jembatan Kotawaringin Sejenak
=====================================================================

Banyak muda-mudi menghabiskan waktu di sekitar Jembatan ini
salah satunya dengan memancing


Motor yang sudah menemani ku sejak SMA


Memancing = Sabar Menunggu


Sungai yang membelah pangkalan Bun, Sungai Arut


Getek,transportasi andalan warga sekitar Sungai


Kakak- beradik, begini lah kehidupan anak kecil yang ada diseberang sungai

Comments

yana said…
Bagus deh artikelnya. Saya ke Pangkalan Bun tepat setahun lalu, jatuh cinta padanya dan juga mengarungi sungai Arut dalam perjalanan ke Harapan Plantation, Manismata.

Foto-fotonya juga bagus
fajjar_nuggraha said…
sama-sama mbak..waktu itu saya hunting selama satu minggu..hampir seluruh sudut panorama kota Manis beserta keunikaan sudah saya rekam lewat foto, namun sayang foto2nya hilang bersama laptop saya dan belum sempat dipublishkan...salam kenal..kalau ada alamat blog bisa minta tolong saya dikasih linknya...

Popular posts from this blog

Foto-Foto Terlarang Hindia Belanda

Green Street Hooligans, Bonek

Ruas Berita di PTN Peraih Akreditasi A