Malang Tempo Doeloe 2009, Rekonstruksi Jatidiri Malang



Saya termasuk orang yang sering sekali mengunjung Malang, namun edisi spesial yang menjadi icon kota Malang seperti Malang Tempoe Doeloe dan Pekan Raya Malang selalu saya lewatkan. Tidak ingin acara yang dalam rangka menyabut Hari Jadi Kota Malang ini terlewatkan kembali. Maka saya memutuskan berangkat menuju Malang Sabtu (23/5) minggu lalu. Malang Tempoe Doeloe atau yang akrab disebut dengan MTD saja ini digelar selama empat hari mulai tanggal 21-24 April 2009 di sepanjang jalan Raya Ijen. Berangkat dari Surabaya dengan cuaca yang cerah selepas siang hari, dan tiba di Malang sudah disambut dengan cuaca mendung, seakan langit mau tumpah meradang dengan tetesan airnya. Tiba di Malang tepat pukul 3 sore hujan sudah turun dengan derasnya, hingga terpaksa dibuat menunggu lama diterminal Arjosari. Akhirnya batal lah rencana saya untuk ke MTD sore itu, dalam hati saya bergumam semoga saja malam ini tidak hujan. Walaupun hujan masih turun rintik-rintik saya paksakan saja ke MTD malam itu, sial memang kunjungan saya ke MTD kali tepat dengan malam Minggu, otomatis masyarakat Malang sendiri tumpah ruah di seluruh pintu masuk MTD yang tersebar di empat jalan masuk menuju Jalan Raya Ijen. Saya sendiri memutuskan masuk dari arah depan Jalan Ijen sesampainya disana meskipun disambut dengan rintik-rintik hujan terlihat pemandangan bikin nyali ciut untuk meneruskan masuk ke MTD. Bagaimana tidak, Jalan yang merupakan jalan satu arah itu menjadi dipenuhi oleh para pejalan kaki dan kendaraan bermotor. Akibatnya hampir tidak ada celah sama sekali disana.
Padat merayap, ngalahin kemacetan di Tol Porong

Kondisi kemacetan yang cukup parah ini membuat Mbak Dani yang merencanakan week end ke MTD menjadi gagal. Mobil yang membawa Humas ITS ini mengalami kesulitan untuk memasuki area Jalan Ijen. Akhirnya Mbak Dani memutuskan pulang dan Mampir sejenak ke Malang Olympic Garden (MOG). Mbak Dani orang kedua yang gagal janjian ketemuan dengan saya di MTD, selain si Lutfiana Maryetin Mahasiswi Statistika ITS yang pulang duluan di Siang harinya setelah menyelesaikan tugas surveynya di Malang. Mungkin saya juga akan membatalkan ke MTD malam itu, kalau saja saya tidak berdarah Bonex, darahnya yang sedang mengalir kencang di tubuh akibat tempaan kuliah di ITS. Menerobos masuk ke pintu gerbang MTD tidaklah mudah, selain harus melawan arus balik yang ingin keluar dari Ijen, tubuh kita terkadang juga harus beradu dengan sepeda motor yang memang di parkir di kompleks Ijen. Dengan sedikit usaha yang cukup berat akhirnya saya juga berhasil memasuki jalan Ijen. MTD kali ini sendiri mengambil tema Rekonstruksi Jatidiri, dimana upaya untuk memunculkan kembali jatidiri Malang yang hampir punah. MTD sendiri dibagi menjadi beberapa Zona, antara lain Zona peralihan pemerintahan Stadgeemente-kotapraja, Zona kegigihan perjuangan arek-arek Malang, Zona ekonomi kerakyatan masyarakat Malang, Zona pondasi pendidikan dasar di Malang, Zona Keragaman budaya dan budidaya pangan. Selain itu banyak kegiatan-kegiatan unik dan bergenre jadul berada di kawasan Ijen ini. Belum jauh melangkahkan kaki ke pusat MTD, saya sudah terkesima dengan jajanan khas Malang, yang menurut saya lumayan lengkap dijual di MTD ini. Makanan dan Minuman dari jaman Ken Arok hingga Kennedy juga ada disini. Di stand pertama saya langsung diberi sungguhan gratis oleh bu Narmi, penjual Ireng-ireng. Jujur baru kali ini saya mendengar jajanan dengan nama itu. Ireng-ireng sendiri adalah makanan yang berbahan dasar ketan, kemudian diberi taburan parutan kelapa kemudian untuk menambah kelezatan ireng-ireng biasanya di beri saus gula merah diatasnya. Dilihat sepintas makanan ini mirip dengan dodol Garut. Enaknya lagi saya diberi makanan yang katanya khas ini gratis.
Bu Narmi dengan Ireng-Irengnya

Tidak jauh dari stand Bu Narmi, saya bertemu dengan Pak Suharjo penjual segala panganan tempo doeloe. Tapi ada dua hal yang bikin saya tertarik dengan stand pak Harjo begitu biasa dia dipanggil. Pertama adalah rokok Klobotnya dan kedua tape bakar, serta ketan bakarnya. Yang kedua ini gara-gara, lagi-lagi saya dikasih gratis untuk mencicipinya. Sebenarnya rasanya rada gurih dan berasa asam karena tape, yang lebih enak lagi Ketannya, tentunya bisa dibayangkan gurihnya ketan itu. Perihal rokok klobot sendiri, saya masih ingat sekali ketika kakek saya dulu merokok dengan semacam rokok ini, bedanya kalau di kalimantan rokok klobotnya dilinting dengan daun yang saya ga tau namanya. Namun di MTD ini saya melihat rokok yang menjadi cikal bakal rokok Indonesia di linting dengan daun/ atau apalah namanya yang penting dia berasal dari material yang ada di jagung. Rokok klobot sendiri dijual dengan harga Rp 2000, untuk 3 batang. Bagi para Ahli Hisab (Perokok,red) tentunya rokok Klobot bisa menjadi pilihan di MTD.
Rokok Klobot dan Tape & Ketan Bakar pak Harjo

MTD 2009 kali ini juga tidak menjadi ajang parade kuliner khas Malang-an dan jadul-jadulan. Tapi juga menjadi ajang para insan kreatif yang walaupun dianggap sebagian orang hanya merupakan sebuah karya yang biasa-biasa saja, namun tidak buat saya. Misalnya saja penjual alat parut segala bentuk dan rupa. Dengan memanfaatkan bahan seadanya, Pria ini bisa menjual dan mendapatkan untung dari mesin parutnya. Atau lain lagi dengan Bapak yang bermain musik dengan memanfaatkan seluruh kemampuan dirinya meskipun beliau Tunanetra, Bapak ini bermain musik nonstop tiada henti. Soalnya sejak saya berangkat menuju ke jalan Ijen yang paling pojok, sampai saya memutuskan pulang di Jam 11 malam, bapak ini tiada henti memainkan musiknya. Lain lagi dengan Mike mahasiswi Jurusan Akuntasi Brawijaya ini, dia bersama teman-temannya membuat ukiran Topeng khas Malang. Topeng yang juga merupakan tokoh perwayangan ini membuat daya tarik sendiri bagi pengunjung MTD malam itu. Untuk satu Topeng dipatok harga 75 ribu rupiah. Tak ayal ukiran ini menjadi laris manis dibeli oleh pengunjung MTD.

Mesin Parut Sederhana namun cukup lengkap

Mulut, Tangan, dan Kaki semua dipakai
Topeng Dewi Ayu Sekartaji

Perjalanan saya di MTD juga cukup melelahkan, apalagi ditambah suasana jalan bak kondisi lempar jumroh. Sangat padat sehingga membuat sulit mengambil nafas dan udara segar waktu itu. Sesekali saya pun menyempatkan diri untuk berhenti menikmati pementasan yang ada di MTD kali ini. Pementasan yang pertama adalah tarian etnik yang dibawakan sekelompok pria dan wanita ini mengundang sejumlah mata pengunjung MTD untuk bergumul dan berkumpul untuk menyaksikan tarian yang dibawakan oleh 5 Wanita yang berbusana perdesaan. Sedangkan yang pria memainkan gendang atau rampak, Alunan musiknya yang bikin saya tertarik dengan penampilan ini. Membuat saya tetap terus semangat untuk menyusuri jalan Ijen hingga ke akhir jalan. Tidak jauh dari itu Kelompok pemusik tahun 70'an juga hadir di MTD dengan panggung yang sederhana, Group Band dengan vokalis wanita ini menyanyikan lagu-lagu yang hit di tahun 1970-an. Ternyata musik jadul juga banyak peminatnya, jadi tak ayal banyak para peminat musik yang rela berdiri untuk mendengarkan sang biduwan ini bernyanyi. Di tengah jalan Jalan sekitar monumen kendaraan tua yang memang di pajang di Jalan Ijen terpapang Panggung pergelaran wayang orang, tidak kalah dengan banyak peminatnya dengan konser musik tadi, wayang orang pun menjadi sungguhan favorit di MTD 2009.

Alunan Musiknya yang bikin semangat

Pagelaran musik 70'an di MTD 2009

Cerita Pewayangan masih menjadi tontonan seru di MTD

Tidak lengkap memang kalau di Malang Tempo dulu tanpa melihat berbagai barang-barang unik dan cukup kuno. Sebenarnya hampir semua pekakas dan peralatan yang berada dijaman kolonial hadir dipamerkan pada ajang rekonstruksi jatidiri ini. Namun saya tidak dapat mengabadikan semuanya kedalam liputan MOD kali ini. Mungkin bagi para penggemar sepeda cukup beruntung, karena saya sempat mengabadikan sebuah sepada antik yang berasal dari tahun 1963. Sepeda yang oleh pemiliknya ini dinamakan Philip ini menjadi kebanggan pak Hardiman kalau sudah perhelatan MTD dimulai. Sepeda yang menjadi warisan turun menurun keluarganya ini sudah beberapa kali ditawar untuk dibeli oleh para kolektor-kolektor benda kuno. Tawaran tertinggi penah jatuh di harga 70 juta, namun semuanya di tolak. Yang cukup membuat decak kagum adalah keberadaan radio kuno dari tahun 1946, oleh pemiliknya yang akrab di panggil Alex ini, radio ini merupakan peninggalan kakek buyutnya. Menurutnya dulu kakek bunyutnya mengetahui kabar bahwa Indonesia Merdeka adalah melalui radio ini. Maklum saja waktu itu kabar Indonesia telah memproklamasikan kemerdekaannya baru tersebar 1 hingga 2 tahun setelah Kemerdekaan akibat terbatasnya komunikasi di jaman Kolonial. Tidak kalah menarik dari stand yang memamerkan radio-radio tua ini, terdapat sebuah stand yang menjual semacam lukisan yang dibentuk dengan menggunakan berbagai motif kain batik Malang-an. Namun harganya cukup mahal, tapi sesungguhnya saya ingin juga benda ini untuk pajangan atau oleh-oleh orang dirumah.

Si Philip
Radio merupakan satu-satunya media komunikasi saat tempo dulu

Dua pasang tokoh pewayangan Malang yang diabadikan lewat balutan kain batik

Ternyata antusias dari masyarakat Malang sendiri terhadap acara MTD sungguh sangat membuat iri saya yang untuk saat ini berdomisili di Surabaya. Malang dengan segala keindahan alamnya, objek pariwisatanya yang menjanjikan, akan menjadi tatapan beberapa orang yang adai di Jawa Timur khususnya, atau mungkin dari luar Jatim apabila perhelatan MTD telah dimulai. Berjumbelnya pengunjung MTD hari ini menjadi bukti betapa masyarakat Malang tidak lupa dengan Jatidirinya sendiri. Jangan masyarakat lokal yang meramaikan ajang MTD tahun ini, tidak sedikit di setiap seluk beluk jalan Ijen kita jumpai warga negara asing yang memang berniat hadir di MTD tahun ini. Mungkin mereka juga turut mengikuti jejak para nenek moyang mereka yang menjadi kolonial di Nusantara waktu itu, atau saja hanya sekedar memanjakan diri dengan kondisi masa lampau melalui jajanan kolonial yang turut di jual di MTD tahun ini. Namun dengan hadirnya segala sesuatu yang berbau koloni, tidak membuat unsur tradisi lokal dan Malang turut luntur di MTD. Misalnya saja masih banyaknya peminat wayang beber yang dijual ataubahkan wayang-wayang khusus yang memang hanya dipamerkan. Belum lagi berbagai pentas seni dan budaya khas Nusantara yang turut meramaikan MTD juga tidak sepi didatangi oleh para pengunjung.

Bule yang tertarik dengan jajanan khas Kolonial yang dijual di MTD
Penggemar Wayang Beber

Semoga acara keren abis ini tetap bisa saya kunjungi ditahun-tahun mendatang, dan tentunya semoga juga Surabaya menyelenggarakan acara serupa. Toh Surabaya tidak kalah dalam hal relief-relief kuno dan peninggalan kolonialnya. Cukup sekian dulu liputan MOD kali ini, kita akan berjumpa lagi dengan liputan-liputan yang mantab dan makyus.

Comments

aklam said…
as i said to you, liputanmu yang ini maknyus juga, terasa jurnalistiknya. hmm emang gini harusnnya blogger, the real citizen journalist!
Anonymous said…
Aklam:
ngomongmu..... kok yok..yo.o

Fajjar:
Jar, muaap ga bisa nemenin waktu MTD. wah, kalopun jadi pasti photoku udah nampang di MOD.
hehehe
fajjar_nuggraha said…
@Catatansaya
iya lut, si Anggie jadi ga ada temannya kalau tak tinggal foto objek
hehehehe
fajjar_nuggraha said…
@aklam
biasa aja gan...
saya masih kasih dua jempol untuk anda..hehehhe
kalau perlu jempol kaki juga wes...
hehehehe
Jar.... wis akueh ngunu lho sing komen. Ngunu kok isih ngemis komen. :P.

Eeeee tempo doeloe nya tuh kebanyakan 70'an yooo. Ehm,sing paling tuwo radionya? 1946.
fajjar_nuggraha said…
wah ga gitu mas...
hehehehee..kan meminta komen dari kyai sepuh seperti sampaian menjadi kebanggan juga bagi MOD...
yang tahun 70'an itu pergelaran musiknya..
kalau dari all konsep sih mungkin dari jamannya malang waktu masih dikuasai Ken Arok juga ada..hehehe
Anonymous said…
Jar, rekomendasiin aku tentang KALTIM donk!
InsyaAlloh akhir Juni diriku terbang ke Borneo.
fajjar_nuggraha said…
@lutphie..
wah sama donk ane juga terbang ke borneo tepatnya Samarinda akhir Juni ini...ketemuan disana aja entar..hehehehe
Cuman mau ngasih alamat blog ane yang baru diaktifkan kembali. ni blog lama yg hidup kembali gan.. semoga!!

Popular posts from this blog

Foto-Foto Terlarang Hindia Belanda

Green Street Hooligans, Bonek

Sunrise of Java, Banyuwangi