Mengikuti Jejak Islam Nusantara : Islamic Center Samarinda

Islamic Center Samarinda


Siapa yang tidak mengenal kerajaan Kutai Kartanegera dan Mulawarman, dua kerajaan besar di Abad 14 ini berasal dari Kalimantan Timur (Kaltim). Tentunya bagi sebagian besar penduduk Indonesia, mengetahui kedua kerajaan itu melalui pelajaran sejarah yang didapatkan dibangku sekolah. Pada bulan Juli yang lalu saya pun akhirnya berkesempatan untuk menginjakan kaki di pulau Borneo paling timur ini, tempat dimana Kutai dan Mulawarman pernah bersinggasana. Tepatnya saya berkunjung ke dua Kota, yakni Kota Samarinda dan Balikpapan. Tentunya menjadi impian saya dilain waktu akan meniti seluruh kota di Kaltim, mulai dari Bontang hingga ke Berau. Menghabiskan waktu satu bulan di Samarinda, membuat saya takjub akan keindahan Samarinda, masyarakat yang bersahabat dan bersahaja, dan tentunya kenyaman serta keamanan yang tidak saya temukan di Surabaya. Itulah mungkin yang menyebabkan Kota ini banyak didatangi pendatang dari seluruh penjuru Nusantara. Tidak ada yang bisa menolak daya tarik Sungai Mahakam, bahkan keagungan Ikon baru kota Samarinda, yakni Islamic Center Samarinda, Jembatan Mahakam, serta yang terakhir Jembatan yang langsung di resmikan oleh SBY yakni Mahakam Hulu. Semua itu dapat menyihir setiap pendatang termasuk saya untuk melupakan penatnya kehidupan.

The New Icon Of Samarinda
Samarinda sendiri adalah kota yang memiliki sejarah panjang, keberadaan kota ini tidaklah lepas dari kerajaan Kutai dan Mulawarman. Alkisah, ketika pada jaman Kolonial Belanda terjadi banyak perlawanan di daerah yang melibatkan beberapa kerajaan di Nusantara. Salah satunya Kesultanan GOWA, yang dipimpin oleh Sultan Hasanudin, namun sang Sultan mengalami kekalahan akibat beberapa pengkhianatan dari anak bangsa. Sultan pun terpaksa menandatangani Perjanjian Bongaja yang ditawarkan oleh pihak kompeni. Melalui perjanjian ini lah orang-orang bugis dipaksa untuk tunduk dan patuh terhadap Belanda. Akan tetapi banyak dari sebagian orang-orang bugis ini memilih untuk melarikan diri ke pulau-pulau lainnya untuk menyelamatkan diri daripada harus tunduk dan patuh kepada penjajah. Orang-orang bugis ini pun meminta perlindungan dan bantuan kepada kesultanan Kutai, dimana kala itu Kutai telah menjadi Kerajaan Islam dengan Kesultanannya. Sultan Kutai ini pun menempatkan rombongan orang-orang bugis di sekitaran sungai mahakam, dimana secara geografis memiliki daratan yang sama rendah dengan sungai. Sehingga orang-orang bugis tersebut menyebut pemukiman baru mereka dengan nama Samarenda, namun kelama-lamaan akhirnya ejaannya menjadi Samarinda.
Simbol kemegahan dan keagungan arsitektur Islam

Tak heran banyak nama daerah dan pemukiman penduduk di Samarinda diberi nama dengan bahasa bugis seperti halnya LOA, Pua Ado, hingga Daeng. Terlepas dari sejarah tersebut, nuansa Islam sangat kental mewarnai kota samarinda, apalagi kelahiran kota ini juga terjadi dari upaya untuk melindungi sesama umat muslim, dimana kerjaan GOWA pun juga adalah kesultanan Islam terbesar di Nusantara kala itu. Nuansa Islam itu semakin terasa kental setelah kita menelusiri sungai mahakam, dimana disana banyak berdiri masjid-masjid yang berumur sangat tua, seperti salah satunya masjid Mesjid Darrunni'mah. Hal ini menadakan bahwasanya sungai yang menjadi pusat kehidupan kota Samarinda ini adalah sebagai pemukiman muslim. Seminggu di Samarinda saya selalu menelusuri sungai Mahakam untuk menuju ke Lokasi Galangan Kapal, tetapi tidak ada sesuatu yang dapat menarik perhatian saya selain Islamic Center Samarinda. Ya!, Islamic Center yang berdiri kokoh di pinggir sungai Mahakam ini menambah keindahan Samarinda, apalagi jika dikombinasikan dengan Jembatan Mahakam yang telah lebih dulu dibangun. Islamic Center Samarinda sendiri belum menyelesaikan seluruh pembangunannya, jika dikelilingi bangunan yang menghabiskan triliunan Rupiah ini masih terdapat proses penyelesaian di beberapa bagian masjid.

Pemandangan dari atas jembatan sungai Mahakam

Islamic Center Samarinda ini jika dilihat dari atas Jembatan Mahakam, akan terlihat lebih indah dan sangat megah. Mengingatkan saya dengan Masjid Nabawi di Madinah, menara dan kubah yang menjulang tinggi, luas area yang mencapai 12 hektar lebih lengkap dengan asrama, sekolah, dan gerbang-gerbang tinggi menjulang bak arsitektur turki semakin membuat saya tidak akan melupakan keindahan arsitektur rumah Allah SWT ini. Masjid ini berdiri di atas lahan yang dulunya merupakan bekas tanah milik perusahaan kayu PT Inhutani 1 yang diwakafkan ke Pemerintah Kaltim. Bahkan pembangunan kala itu, termasuk keputusan fenomenal mengingat, banyaknya Dana yang dikeluarkan untuk merealisasi proyek besar pertama Kaltim ini.Waktu saya berkunjung ke Islamic Center tepat ketika akan memasuki waktu maghrib, dimana matahari akan mulai turun dan menutup keindahan hari dilangit khatulistiwa Borneo. Tiba di masjid terbesar kedua di Asia Tenggara, setelah masjid Istiqal di Jakarta ini saya langsung menuju kedalam masjid untuk melihat-lihat Islamic Center Samarinda. Saya beserta teman saya yang bernama Amad seorang lulusan Politeknik Perkapalan Negeri Surabaya ITS begitu terkaget, sekaligus bangga dengan bangunan yang super megah itu. Islamic Center ini memiliki ruangan wudhu yang sangat bersih, mewah, dan elegan, kamar mandi yang sangat nyaman dan tentunya canggih. Hebatnya lagi kita tidak dipungut biaya untuk menikmati fasilitas tersebut, termasuk pakiran Islamic Center. Untuk menuju ke lantai yang lebih tinggi, Islamic Center dilengkapi dengan elevator, juga lift, serta jalur khusus penyandangan cacat, Interior bangunan pun tidak kalah megah, lampu cristal yang menawan, lampu dinding yang unik yang bertemakan tulisan kaligrafi, dinding-dinding masjid yang dihiasi dengan asma ul husna', dan pegawai-pegawai yang ramah, mulai dari petugas kebersihan hingga supervisor. Mereka selalu menjawab pertanyaan dari saya, dengan ketulusan hati dan bersahabat. Dimana kondisi ini tidak saya dapatkan di Masjid Sunan Ampel sekalipun. Berbeda dengan masjid Sunan Ampel yang masih dipengaruhi dengan alkuturisasi dari budaya lokal dan hindu-budha lewat arsitektur bangunannya, Islamic Center Samarinda telah mengadaptasi aristektur timur tengah dengan perpaduan unsur Eropa dan Nusantara.

Menara Islamic Center Kokoh dan Menjulang Tinggi

Tempat Wudhu Islamic Center

Lampu yang di langit-langit Masjid

Lampu dinding ini mirip UFO, itu yang membuat saya tertarik untuk memotretnya

Beranda Islamic Center Samarinda

Tempat pilihan di waktu senja, seperti yang dilakukan dua warga Samarinda ini

Puas melihat-lihat keindahan interior Islamic Center Samarinda, saya dan amad menuju beranda masjid untuk menghabiskan waktu di Sore hari yang indah itu. Melihat kesibukan orang yang melalui jalan raya yang berada persih disamping Sungai Mahakam, menjadi hiburan tersendiri bagi kami. Tidak hanya itu kita juga bisa sekaligus mengamati lalu lalang transportasi yang hilir-mudik di Sungai Mahakam. Tidak hanya kapal-kapal tug boat, dan tongkang pengangkut batu bara saja yang bisa masuk ke sungai Mahakam. Kapal-kapal tanker pun banyak lalu lalang melintasi sungai yang menjadi tempat endemik Ikan Pesut ini. Pesona Mahakam di kala Senja ini menjadi semakin indah jika di nikmati dari Islamic Center Samarinda. Belum lagi melihat aktifitas penduduk Samarinda atau bahkan pengunjung yang sengaja datang dari luar pulau atau propinsi lainnya di luar Kaltim. Seperti halya Pak Suriansyah yang berasal dari Banjarmasin Kalimantan Selatan, beliau menyempatkan diri berkunjung disela waktu tugas dinas kantornya. Belum lagi pak Teddy yang mengenakan wearpack bertuliskan TOTAL Oil n Gas, pastinya pria asli Jember ini mencoba menghabiskan waktu untuk istrihat sejenak, sembari ingin menunaikan salat maghrib di Islamic Center Samarinda. Menyesal saya tidak dari awal ke Islamic Center ini, kenapa saya selalu tenggelam dengan rutinitas kerja dan tidak menyempatkan diri dari awal untuk berkunjung ketempat yang sungguh indah ini. Hati ini semakin tertegun miris, kala melihat segerombolan orang tua dan muda dari klub-klub dan komunitas fotografi, membawa kamera DSLR, asyik mengambil gambar dari berbagai angle. Ah sial!! saya hanya bermodalkan kamera Pocket, dan tentunya hasilnya tidak sebegitu bagus jepretan mereka. Kekecewaan itu sedikit berkurang setelah berdiam diri dan menikmati nikmatnya menunggu senja di Samarinda. Kemujuran tidak memihak saya, maksud hati ingin melihat Samarinda dari atas menara Islamic Center Samarinda seperti halnya dengan menara yang ada di masjdi Al- Akbar Surabaya, namun karena masih dalam tahap maintenance menara tersebut tidak dapat di akses.

Melalui menara ini kita bisa melihat seluruh isi kota Samarinda

Senja di Islamic Center, sungguh sangat indah

Arsitekturnya konon menyerupai Masjid Nabawi di Madinah

Dari beranda depan masjid hingga gerbang didepan

Islamic Center sering digunakan sebagai lokasi hunting komunitas fotografi

Hampir ditiap penjuru, para fotografer ini mengambil foto. Bahkan ada yang membawa Modelnya.

Simbolisasi kebersamaan masyarakat Samarinda

Namun tekad saya sudah kuat, saya harus pulang ke SBY dengan membawa liputan Islamic Center Samarinda. Alhasil pun saya juga berasyik ria untuk mengambil gambar. Saya tidak ingin menikmati keindahan Islamic Center ini sendirian, akan saya share untuk teman-teman melalui MOD ini. Saya akan bagikan bagaimana keindahan Islam Nusantara di Samarinda, bagaimana bahagia dan cerianya penduduk Samarinda, keindahan langit dan matahari senja yang menyelimuti Islamic Center Samarinda, Serta semangat kebersamaan masyarakat Samarinda yang tersimbolisasikan melalui keelokan dan kemegahan Islamic Center Samarinda.

Semoga di lain kesempatan saya masih bisa berkunjung

Cukup sekian liputan Mengikuti Jejak Islam Nusantara, edisi spesial dari MOD yang kedua setelah masjid Sunan Ampel Surabaya. Berikutnya MOD akan tampilkan liputan mengenai landsmark di Samarinda yang beberapa tempat telah saya munculkan di tulisan ini. Semoga dapat menambah pengetahuan pembaca akan melimpahnya ramhat Allah diatas bumi Nusantara, melalui Jejak Islam Nusantara.

note : tulisan yang ditulis ditengah-tengah beban kuliah yang telah menerpa dengan deras sang penulis.
Ingin melihat foto dengan hasil yang terbaik klik di foto

Comments

misstyzha said…
broo..ak g suka layout blogmu yg iniii..ky thumbnail fto di pesbuk gt nah! trus fontnya mgkn bagusan dikecilin dkit..soalnya kl gede2 gni rasanya rapet-rapet..apalagi font-nya yg gda kakinya..IMHO tapi..hehe
fajjar_nuggraha said…
Oke mizztyzha..masukan yang sangat bagus nih..hehehe...
Ransel Kosong said…
Hasil fotonya keren-keren Mas :)
salam
fajjar_nuggraha said…
@ransel kosong
makasih juga mas..sama2 foto2 sampean lebih makyus.hehehe..temannya ayos ya..

Popular posts from this blog

Foto-Foto Terlarang Hindia Belanda

Green Street Hooligans, Bonek

Ruas Berita di PTN Peraih Akreditasi A