Before Sunset, Samarinda

Foto yang saya ambil di sore hari Samarinda.
Lokasi di tepi Sungai Mahakam yang legendaris lewat ikan pesutnya.


Perjalanan ke Samarinda bak dapat durian runtuh bagi saya. Bagaimana tidak, kala itu saya seorang mahasiswa kere yang sedang ingin kerja praktek (KP) ini luntang lantung tidak tau arah. Sejak merasakan kejamnya Ibukota Indonesia, Jakarta, saya sudah memutuskan untuk KP di Surabaya saja. Namun tuhan punya cara lain, setelah pontang-panting dan hilir-mudik ke Tanjung Perak. Tidak ada satu pun perusahaan maritim yang memberikan kesempatan saya KP di Kota Pahlawan. Sebaliknya saya malah mendapatkan tiket KP ke Samarinda. Ini bermula ketika ada sebuah email dari senior saya di kampus yang menawarkan KP ditempatnya dengan segala fasilitas dan akomodasi yang ditanggung oleh perusahaan. Ehmm...benar-benar tawaran yang menggiurkan. Malang benar nasib saya, tawaran ini untuk mahasiswa tingkat atas yang telah menempuh tugas gambar/desain yang terakhir di Kampus. Sempat putuslah harapan saya ketika itu. Akan tetapi lagi-lagi saya membuktikan pepatah kuno peninggalan nenek moyang kita "Malu bertanya sesat di jalan". Saya beranikan diri ini untuk menghubungi kontak person perusahaan tersebut, bertanya-tanya saja niatnya. Entah kenapa mungkin kasihan dan iba mendengar "curhatan" saya yang sudah kelihatan seakan-akan frustasi berat, perusahaan tersebut mengijinkan saya KP ditempatnya. Alhamdulliah, selain KP saya juga akhirnya mewujudkan cita-cita mulia di masa kecil yakni menginjakkan kaki di seluruh provinsi yang ada di Pulau Kalimantan. Ya, Sebagai seorang insan kelahiran Pulau Borneo, hanya Propinsi Kalimantan Timur (Kaltim) saja yang belum saya rasakan daratan, laut, dan udaranya. Makanya kesempatan untuk ke Samarinda gratis plus tanpa takut tempat rindang untuk berteduh dan lilitan perut yang menyiksa ini benar-benar hadiah yang tak terlupakan.

Bandara Sepinggan, Balikpapan

Berangkat dari Surabaya jam 3 sore, saya mengalami perjalanan udara yang cukup indah karena bertepatan dengan senja yang mulai menyeruak dari ufuk barat. Langit berwarna emas memantulkan sinarnya ke lautan Kalimantan. Dari ketinggian ribuan kaki ini pula saya melihat beberapa bangunan kilang minyak lepas pantai berdiri kokoh menghunjam dasar laut. Birunya laut, cerahnya langit ketika itu bisa membuai setiap orang yang melihatnya, seakan-akan membuat perjalanan ini semakin cepat belalu. Dua jam di atas langit, burung besi yang saya tumpangi ini pun mendarat di Bandara Sepinggan. Sebuah bandara yang unik dan eksoktik menurut saya, karena letaknya tepat bersebelah dengan laut. Sore hari di Sepinggan nampaknya akan indah seandainya saya punya waktu banyak untuk bersantai. Kalau tidak memikirkan Pak Teguh, Driver perusahaan yang sudah menunggu kami cukup lama di Tempat Parkir. Bandara Sepinggan sendiri adalah bandara yang secara geografis terletak di Kota Balikpapan, untuk menuju ke Samarinda Ibukota Kaltim ini masih membutuhkan waktu kurang lebih 4 jam perjalanan darat dengan menggunakan taksi, jangan bayangkan taksi yang saya maksud adalah sebuah mobil dengan tulisan blue bird, orange, atau silver (taksi yang dimaksud disini adalah mobil kijang, orang Kaltim khususnya sudah mengalami peyorasi makna yang cukup parah..hehehe).

Dalam perjalanan menuju Samarinda, pak Teguh memacu kijangnya dengan kecepatan penuh, melewati jalan kalimantan yang sempit serta naik turun tidak membuat ciut nyali pria asal Lamongan ini. Entah berapa kali kami mau celaka menabrak pembatasan jalan atau baku tabrak dengan kendaraan lain. Allah memang masih sayang dengan kami sehingga dibuatnya tangan Pak Teguh cekatan untuk membanting setir kesana-kemari. Sadar dengan kondisi mata dan tubuhnya tidak mendukung, Sang Transporter satu ini pun menyempatkan diri untuk mampir ke cafe-cafe atau pondok-pondok makanan di sekitar Cagar Alam Bukit Soeharto. Teman saya yang baru pertama kalinya melintasi lautan dan berkunjung ke Kalimantan terkaget-kaget melihat kondisi disekitar cafe tersebut, gelap, pohon-pohon besar dimana-mana, serta suara berbagai hewan malam yang saling sahut menyahut di keheningan malam Bukit dengan nama bapak pembangunan Indonesia ini. Tapi percaya lah kawan ditempat saya terlahirkan, suasana ini masih belum ada apa-apanya, dalam hati ku membanggakan diri.

Sesampainya di Samarinda, kami langsung disambut oleh Cak Sun (senior saya) dan Pak Ari (juga senior saya). Keramahan sesama alamameter biru ini membuat saya sungguh tersanjung tapi ga sampai ke-6, hehehe. Disambut bagai keluarga jauh yang sudah lama tidak bertemu, saya disungguhi sate malam itu. Konon sate yang saya makan malam itu adalah sate yang terenak di Samarinda. Dengan irisan daging yang besar-besar, sate ini pun diberi komposisi hati ayam yang besar-besar pula. Bisa anda bayangankan sendiri bagaimana nikmatnya...? Kenyang. Setelah mandi, saya pun langsung disuruh istrirahat, bukan apa-apa besok saya langsung diterjunkan ke Galangan kapal yang letaknya kalau saya bandingkan jauhnya sama dengan perjalanannya dari kampus ITS Sukolilo ke Pandaan. Terbayang tidak betapa jauhnya perjalanan yang harus kami lalui. Dengan kontur daratan yang tidak rata pula, banyak bukit curam yang harus kami lewati, jalanan berbatu, berpasir, melewati hutan rimba, daerah tambang batu bara, tidak jarang kita berpapasan dengan kendaraan-kendaraan tambang yang berukuran super big. Bahkan kami menjuluki area Bukit Baduri, sebuah daerah yang saya lalui ketika menuju ke tempat KP ini sebagai "Terapi Getar". Ini karena setiap melewati area ini tubuh dan motor belalang tempur yang saya tumpangi bergetaran tidak karuan akibat bongkahan batu yang dijadikan pengganti aspal. Seorang teman saya Ahmad, ketika diajak berkunjung ke sana, sakit tiga tiga malam akibat tidak kuat menahan gonjakan batin dan jasmani.wkwkwkw. untung saja nilai KP ini dapat A, sehingga terbayar sudah pengorbanan itu.

Satu, dari jalan curam yang ada disekitar Bukit Baiduri

Seorang Teman pernah bilang, orang-orang di kota ini gila kerja, mereka menganut paham workaholic. Diam-diam saya pun menyetujuinya, ya..Ini dikarenakan tidak adanya waktu luang yang bisa saya gunakan untuk sekedar menikmati Samarinda dengan lebih intim lagi. Hari-hari di Samarinda kebanyakan saya habiskan untuk bekerja, bekerja, dan bekerja. Mungkin ini setimpal dengan segala fasilitas dan kenyamanan yang kami dapatkan selama ini. Namun terkadang, hati, otak, dan tubuh ini pun memberontak ingin direboot ulang. Memang bos-bos kita di perusahaan ini pun juga berpikiran sama dengan kebanyakan orang dan saya, kalau refreshing itu perlu. Terheran campur tertawa saya melihat apa yang dimaksud refreshing versi mereka. Bagi mereka bermain dan menghibur diri dengan kumpul-kumpul teman kerja di tempat billiard adalah sebuah liburan dan penyegaran yang sangat langka, pergi ke cafe-cafe dan duduk berlama sambil wi-fi juga masuk kategori refreshing. Atau terkadang juga pergi ke tempat karoake. Yang cukup sehat hanyalah bermain futsal tapi lagi-lagi ketemu orang yang sama. Itu-itu saja. Apakah ini memang dunia kerja, jadi hiburannya pun seperti ini. Berbeda dengan pikiran saya yang lebih suka menikmati indahnya kota Samarinda, menikmati daerah-daerah asing namun eksoktik.

"Lewat bola sodot satu ini, tidak hanya menyalurkan hobi
tapi juga bisa menjalin relasi" ujar Pak Ari

Alhasil hampir dapat dipastikan saya tidak dapat mengunjungi obyek-obyek indah disini dengan leluasa. Akan tetapi tekad dan niat sudah bulat, ditengah kesibukan survey dan berkerja saya pun menyempatkan diri untuk mampir ke tempat-tempat indah tersebut. Yang pertama tentunya ikon kota ini yakni Islamic Center Samarinda. Kompleks seluas satu hectare lebih ini kerap kali saya kunjungan jika pulang dari galangan untuk sekedar salat ataupun melepas lelah. Sungguh sayang seandainya bangunan yang memiliki gaya arsitektur Timur Tengah ini dilewatkan jika berkunjung ke Samarinda. Disini anda bisa menikmati kehidupan sore hari, lalu lalang kendaraan bermotor, senja di sungai mahakam, atau bahkan aktifitas transportasi kapal-kapal yang hilir-mudik mengangkut batu bara. Wajar memang kota ini jadi super sibuk dihari-hari kerja, entah ada berapa ladang minyak disini, tambang batubara, kemudian industri-industri lainya seperti kelapa sawit disetiap jengkal tanah Samarinda. Ngomong-ngomong batu bara, ketika KP disini ada kejadian yang cukup miris mengenai batu bara. Emas hitam dari kalimantan ini ternyata hanya bisa dinikmati oleh para pengusaha-pengusaha besar saja. Banyak penduduk yang belum bisa merasakan langsung berkah yang diberikan tuhan pada Ibukota propinsi Kaltim ini.

Islamic Center of Samarinda, The New Icon

Sungai Mahakam, merupakan urat nadi kehidupan Kota Ikan Pesut ini

Jika anda perhatikan seperti yang sudah saya ceritakan diatas, tidak terhitung jumlah kapal tongkang yang mengangkut batu bara hilir mudik di Sungai Mahakam. Nah ternyata rutinitas inilah yang menjadi lahan pekerjaan bagi sebagian orang di pesisir sungai mahakam. Orang-orang tersebut dengan bermodalkan kapal kayu bermesin tempel sekelas dong feng siap untuk mengikuti pergerakan kapal-kapal tongkang tersebut, baik yang kosong ataupun penuh dengan muatan batu bara. Dengan waktu dan tenaga sebisanya mereka "menjarah" setiap keping batu bara tersebut kemudian dikumpulkan ke kotak muatan kecil dibelakang kapal mereka. Tidak sedikit pula yang celaka akibat praktek gila ini, banyak yang terjatuh ke sungai kemudian terbawa arus, ataupun jatuh ke dasar kapal tongkang tersebut. Praktek liar ini bukannya tidak disadari oleh pihak kapal yang mengangkut batu bara tersebut, kebanyakan mereka membiarkan saja, toh berapa sih yang sanggup mereka bawa dibandingkan dengan puluhan ribu ton batu bara yang berhasil mereka keruk dari perut bumi.

Kapal-kapal pengempul batu bara ini banyak dijumpai di Mahakam.
Salah satu kapal yang hampir tenggelam setelah terbawa arus menghantam kapal lainnya.


Orang-orang galangan yang menonton kejadian hampir tenggelamnya
kapal batu bara penduduk lokal tersebut.

Kembali ke tempat-tempat indah yang wajib anda kunjungi di Samarinda setelah Islamic Center adalah jembatan. Samarinda memiliki 2 jembatan monumental. Pertama adalah Jembatan Mahakam, namun sayang anda tidak bisa berlama-lama diatas jembatan ini karena lalulintas yang ramai dan padat. Anda bisa menikmati keindahannya di malam hari dengan hiasan lampu yang menghiasi rangka-rangka besi jembatan ini, anda akan terasa terbawa ke Cambridge Bridge. Sungguh indah dan membuat kangen. Momen ini saya alami ketika malam terakhir di Samarinda sebelum harus kembali ke Surabaya.

Keindahan yang tidak pernah saya lupakan dari Kalimantan adalah
indahnya awan-awan yang menggantung di kolong langit

Mahakam Hulu, Jembatan harapan masa depan ini
merupakan spot yang indah untuk bersantai disore hari

Mahakam Hulu, bisa jadi alternatif lain setelah Jembatan Mahakam yang
sudah ramai dengan lalu lalang kendaraan bermotor

Kemudian jembatan yang tidak kalah bagusnya adalah Jembatan Mahakam Hulu, sesuai dengan namanya jembatan ini tepat berada di hulu sungai mahakam. Jembatan ini juga yang menghubungkan antara Samarinda Kota dan Samarinda Seberang (penamaan yang biasa digunakan untuk menyebut daerah yang berada di seberang sungai). Bedanya di jembatan ini pemandangan alamnya masih cukup indah, jembatan yang relatif sepi bisa membuat anda bisa berfoto narsis di atas jembatan yang diresmikan langsung oleh Presiden SBY ini. Selain itu jembatan ini masih bersih. Waktu yang tepat kesana adalah sore hari (tololnya saya datang waktu matahari tepat diatas kepala), sambil menunggu senja anda juga bisa memesan berbagai makanan ringan seperti jagung bakar atau gorengan yang dijual di pintu masuk sebelum ke arah jembatan. Tentunya sangat nikmat dan romantis.

Comments

said…
hmmm. nice pict & good story gan.. ane up2in ye..
thewavemaker said…
wah,,ak juga pengen KP di kalimantan deh...
poto nya bagus2 mas...
fajjar_nuggraha said…
iya mas semoga tercapai harapannya..coba ke total atw bv aja disana mas..enak tuh.
Bay[u]bay said…
ceritanya menarik...
perjalanan menuju Samarinda memang Asyik, bukitnya bagus.

Popular posts from this blog

Foto-Foto Terlarang Hindia Belanda

Sunrise of Java, Banyuwangi

Ruas Berita di PTN Peraih Akreditasi A