Dirgahayu Republik Indonesia 72

Hotel Majapahit (ex Hotel Oranje dan Hotel Yamato)

Tepat tanggal 19 September 1945, sebulan setelah Bung Karno dan Bung Hatta memproklamirkan kemerdekaan Republik Indonesia terjadi peristiwa bersejarah yang memicu perperangan hebat 10 Nopember di Surabaya (The Battle of Surabaya), yang kini dikenal sebagai hari pahlawan. Peristiwa tersebut adalah perobekan bendera Belanda di Hotel Yamato. Setelah Jepang mengalami kekalahan, Sekutu dan Belanda kembali mamasuki daerah-daerah di Indonesia, salah satunya Kota Surabaya. Kedatangan 'kedua" ini dimaksudkan untuk melucuti kekuasaan Jepang setelah kalah perang, namun sekelompok orang Belanda yang masih beranggapan Indonesia belum merdeka mengibarkan bendera di tiang bendera yang ada di Hotel Yamato, kebetulan para perwira dan pasukan sekutu memang diinapkan di hotel yang dulunya bernama Hotel Oranje, hotel para meneer yang bertugas di Hindia Belanda. 
Singkat cerita, dimana euforia kemerdekaan masih dirasakan dengan penuh suka-cita oleh masyarakat Surabaya. Tiba-tiba harus sirna dikarenakan ulah sekelompok Orang Belanda yang dipimpin oleh Ploegman tersebut. Amarah pun tidak bisa dibendung, ratusan orang mengepung Hotel Yamato, dan menuntut agar bendera Belanda segera diturunkan. Hadir sebagai perunding kala itu adalah Sudirman, diikuti oleh Hariyono dan Sidik. Alih-alih mendapatkan sambutan yang hangat oleh Pihak Belanda, Sudirman pun mendapatkan todongan pistol oleh Ploegman. Spontan Sidik menendang tangan Ploegman, namun peluru pun terlanjur dilepaskan, suara desingan itu pun menarik perhatian beberapa serdadu sekutu dan masyarakat Surabaya yang telah tumpah ruah berkumpul di luar Hotel Yamato. Beruntung peluru liar tersebut tidak mengenai siapapun, dilain sisi Ploegman dan Sidik bergulat hingga dua-duanya pun merenggang nyawa, melihat situasi mulai berbahaya, Hariyono pun mengamankan Sudirman untuk keluar dari Hotel Yamato, serta diikuti dengan rangsekan masyarakat yang menyerbu masuk kedalam hotel. Perkelahian hebat pun terjadi diantara dua pihak, Hariyono setelah mengamankan Sudirman, ikut bergabung dengan Kusno untuk memanjat tiang bendera Hotel Yamato, mereka pun berhasil merobek bagian biru dari bendera Belanda, sehingga berkibarlah kembali Sang Merah-Putih (dwitunggal) diikuti dengan pekikan merdeka, yang dibalas dengan teriakan Merdeka!, Merdeka! Merdeka! oleh masyarakat yang berkerumun dibawah.

Sekali Merdeka tetap Merdeka, Dirgahayu Republik ku Tercinta, Indonesia.

Sekilas Hotel Majapahit
Hotel Majapahit tidak banyak berubah dari awal berdiri tahun 1910 hingga kini

Meskipun pernah menjadi lokasi pertempuran yang cukup hebat, Hotel Majapahit masih tetap utuh dengan desain dan aristekturnya yang tetap terjaga dari 1910 hingga sekarang. Hotel yang dibangun oleh Lucas Martin Sarkies yang juga mengelola Hotel Raffles yang ternama tersebut, mencoba untuk menjaga tradisinya dengan membangun beberapa Hotel Oranje dibeberapa daerah kolonial Belanda dan Sekutunya. Hotel Oranje ini lah yang nantinya akan berganti nama menjadi Hotel Majapahit. Ada aura yang berbeda bila kita memasuki hotel ini, bak dibawa menjelajahi ruang dan waktu kembali kejaman kolonialisme. Keanggunan hotel ini pun tidak perlu diragukan kembali, kokohnya tiang-tiang hingga lengkungan pondasi hotel ini akan membuat siapapun yang melihat akan tertegun kagum.

Selasar-selasarnya pun mengundang rasa penasaran untuk ditelusuri, terlihat cukup menyeramkan namun jangan heran hotel ini selalu penuh akan tamu-tamunya, baik dari kalangan wisatawan asing, domestik, hingga pejabat-pejabat negeri ini. Salah satu tamu loyalnya adalah mantan Presiden Ibu Megawati Soekarno Putri.


Tamannya yang asri pun sangat tersohor hingga ke mancanegara, menurut saya yang paling ikonik dari hotel ini adalah tamannya yang terletak tetap ditengah-tengah itu. Pihak hotel pun merawat taman tersebut dengan sangat hati-hati dan teratur, konon bentuk dan desainnya juga tidak berubah terlalu banyak dari awal berdiri. 

Comments

Popular posts from this blog

Foto-Foto Terlarang Hindia Belanda

Green Street Hooligans, Bonek

Sunrise of Java, Banyuwangi