Green Street Hooligans, Bonek


Bonek cilik didampingi orang tuanya lengkap dengan atribut Green Force.
Foto diambil ketika derbi tim Jawa Timur antara Persebaya
Vs Arema Malang.


Green Force...
Green Force... Green Force!!!
Ijo..Ijo...Ijo...!!!
...Ijo..Ijo..Ijo..!!!
Pekikan nyaring tersebut membumbung tinggi disekitaran Stadion Gelora Sepuluh November atau yang lebih akrab disebut dengan Stadion Tambaksari ini. Tiap detik dan menit di Tambaksari teriakan yel-yel itu tiada hentinya. Luapan semangat terasa menguap bersama teriknya matahari di Surabaya ketika itu. Kurang lebih 30 ribu lautan manusia berseragam hijau menghampar luas, tersebar di segala penjuru jalan. Kalau dilihat dari atas mungkin sudah seperti karpet berukuran raksasa yang sedang dijemur di Kota Surabaya, pikir saya. Jalan-jalan pun banyak ditutup untuk memberikan ruang bebas bagi para bonek (suporter fanatik Persebaya). Akibatnya saya pun harus berjalan kaki cukup jauh untuk menuju ke Stadion. Pemandangan yang cukup langka ini hanya terjadi dalam satu tahun sekali, yah ketika Persebaya Surabaya menjamu Arema Malang di Liga Indonesia musim ini. Derbi kedua tim asal Jawa Timur (Jatim) ini memang selalu menampilkan tontonan yang menarik baik dari segi permainan ataupun intrik-intrik yang terjadi di luar lapangan. Aroma permusuhan dan gengsi yang tinggi antara dua tim ini memang sudah bersemi sejak jaman Liga Perserikatan. Bagi Persebaya, tidak apa-apa kalah melawan tim lain asal jangan dengan Arema Malang. Begitu juga sebaliknya dengan Arema Malang. Bisa dikira-kira sendiri oleh anda bagaimana atmosfer di stadion ketika itu. Panas dan penuh emosi.
Teman-teman dari Bonek Kampus ITS

Bagi orang yang normal mungkin justru akan menghindar mendatangi Stadion Tambaksari, dan memilih menyaksikan pertandingan di stasiun TV saja. Namun untuk pertama kalinya, saya yang sudah 4 tahun di Surabaya ini memutuskan untuk berangkat menonton bersama kawan-kawan dari Bonek Kampus ITS. Untuk memenuhi rasa penasaran dan ikut juga berharu "hijau" bersama Bonek lainnya saya pun rela berdesak-desakan serta berbagi asupan okisgen yang menipis di Tambaksari sore itu. Mungkin kalau saja Pemerintah Kota (Pemkot) Surabaya bisa mengeluarkan travel warning, pasti stadion Tambaksari ini bisa jadi masuk dalam list teratas wilayah yang cukup berbahaya dikunjungi. Tetapi disitulah letak sensasinya kawan. Menikmati dan mengamati Bonek dari dekat, tidak akan ditemukan dimana pun. Entah itu ulah mereka yang terkadang sekenanya, kompak, bahkan penuh solidaritas. Meskipun diantara mereka tidak ada yang saling mengenal. Di Sansiro atau Santiago Bernabéu pun hal ini tidak akan bisa anda dapatkan. Jadi bagi anda yang ada di Surabaya jangan ragu untuk sesekali menikmati wisata yang juga memacu adrenalin ini. Rasakan dan nikmati sensasi berteriak meluapkan emosi bersama para Bonek.


Kondisi diluar Stadion Tambaksari ketika bis iring-iringan Arema datang memasukin stadion
--------------------------------------------------------------------------------------------------
Tepat jam 13.00 WIB ketika matahari lagi dekat-dekatnya dengan ubun-ubun, kami berangkat menuju Tambaksari. Selain motor dan membawa badan, tanda pengenal (KTP,SIM) dan uang 25 ribu rupiah tidak lupa kami masukkan ke kantong masing-masing. Sengaja dompet kami tinggal, takut menghindari kejadian yang tidak diharapkan sesampainya di Tambaksari nanti. Aslinya sih segan dan takut dengan reputasi sebagian Bonek yang terkenal "anarkis".hehehe...apalagi ini melawan Arema. Belum lagi peluit kick off dibunyikan, ternyata segala penjuru jalan telah penuh. Di beberapa jalan ini pula saya bisa menduga yang datang tidak hanya dari Surabaya, melainkan beberapa kota disekitarnya, seperti Sidoarjo, Pasuruan, ataupun Gresik. Itu terlihat dari baju dan atribut mereka yang bertuliskan nama kota asal dibelakang kata Bonek. Parahnya lagi kami semua tidak memegang tiket, padahal uang sudah kami kumpulkan untuk membeli tiket satu hari sebelum pertandingan. Namun apa daya, animo pertandingan El Clasico ini membuat tiket habis, ludes dibeli baik oleh fans ataupun calo. Bahkan Doni salah satu teman kita yang memegang member anggota suporter Persebaya Surabaya pun tidak mampu mengadakan tiket. Terpaksa kita ikut mengantri didepan loket tiket Ekonomi, berharap mendapatkan tiket bersama ribuan Bonek lainnya yang juga meringgis dan mulai kepanasan untuk masuk ke Stadion. Entah kenapa saya juga tidak mengerti, loket tiket itu tidak berani dibuka. Tidak ada kata-kata pasti tiket sudah habis apa belum. Walhasil terkantung-kantung lah nasib kami di Tambaksari.
Aku Bonek : Tulis salah satu syal yang dijual di Tambaksari

Daripada berdiam diri, kami pun memutuskan untuk berjalan-jalan disekitar stadion. Sembari mencari calo yang mau menawarkan tiketnya. Ternyata tidak hanya pengurus resmi saja yang takut untuk menjual tiket, bahkan calo pun sembunyi-sembunyi menjualkan tiket. Lucunya saya yang membawa tas ransel, selalu dikira calo. Pemandangan disekiling stadion juga cukup mencengkam dimana mayoritas Bonekmania belum mendapatkan tiket. Mereka terlihat berduduk-duduk bergerombol. Benar-benar seperti akan ada pertandingan akbar sore ini sepertinya. Polisi dan pasukan keamanan gabungan bersama TNI juga tersebar dimana-mana, mobil-mobil stasiun TV pun banyak mangkal disekitar stadion. Semua ingin melihat hari yang cukup bersejarah ini. Maklum sudah 3 tahun Persebaya tidak berjumpa dengan Arema. Untuk keamanan sendiri, seperti yang saya baca di surat kabar dan media lainnya, pertandingan ini memecahkan rekor pengamanan Sepakbola di Indonesia. Kurang lebih 5000 personil gabungan ditempatkan, belum lagi keamanan dari Polda Jatim. Konon mengalahkan pengamanan presiden SBY ketika meresmikan Jembatan Suramadu.
Pak Polisi sedang bersantai didepan masjid Tambaksari, sepertinya akan
cukup melelahkan tugas beliau-beliau ini.wkwkww
...

Kembail ke pencarian kami yang ternyata tak berbuah hasil, padahal kick off sebentar lagi akan dimulai. Karena panas dan capek berdesak-desakan kami pun memutuskan mencari masjid untuk salat dan beristrirahat. Sambil berharap ada calo tiket berjualan di masjid dibelakang komplek Stadion Tambaksari tersebut. Atau kalaupun tidak ada, kami setidaknya berdoa bersama-sama kepada Allah. Agar didatangkan calo yang mau menjual tiket itu. Beruntung juga kami memutuskan ke masjid, ternyata disana juga tempat berkumpul para supporter fanatik atau yang lebih dikenal dengan Bonek Garis Keras. Para Laskar Bajul Ijo ini yang akan berada digaris terdepan untuk memberikan dukungan moril kepada tim kesayangan meraka. Meraka pun dilengkapi dengan peralatan musik seperti drum dan beberapa atribut klub lainnya. Menjadi pemandangan menarik ketika gerombolan Green Force ini mengangkat serta mengusung, satu replika buaya besar dengan boneka singa dimulut buaya tersebut. Mungkin ini sebuah gambaran, bagaimana ganasnya buaya (maskot Persebaya) yang menerkam dan menelan Singa (maskot Arema) hidup-hidup, sebagai simbolilasi kemenangan Persebaya terhadap Arema.
Seorang Bonekmania bersantai bersama maskot kebanggan Persebaya, Bajul Ijo
dengan Singa dimulut Sang Predator sungai ini.


Selepas salat Ashar, kami melanjutkan perburuan tiket. Hampir sulit membedakan antara calo dan calon pembeli. Karena kebanyakan para calo ketakutan apabila ketika proses tawar menawar membuat Bonekmania naik pitam. Sehingga melakukan hal-hal yang tidak-tidak. Bisa jadi calo tersebut akan jadi amukkan massa yang berjumlah puluhan ribu itu. Kalaupun terjadi wajar saja lah, harga tiket ekonomi yang seharusnya cuman berbanderol 15 ribu rupiah, dilonjakan hingga 25 ribu rupiah. Harga itu ketika masih jam 11.00 hingga jam 13.00 WIB. Semakin mendekati waktu kick off harga makin naik, hingga mencapai 50 ribu-75 ribu perlembarnya. Siapa yang tidak gerammm. Kami pun bagaikan mati tak segan hidup tak mau. Terlanjur hanya membawa uang rata-rata 25 ribu rupiah. Bahkan ada yang tidak membawa uang sama sekali. Membuat kami hampir putus asa pulang ke kampus ITS dengan tangan hampa. Namun saya percaya pertolongan tuhan datangya tidak ada yang mengira lewat jalan apa dan bagaimana. Sementara itu kericuhan terjadi tepat datangnya iring-iringan bis Arema dipintu utama stadion. Semua pasang mata Bonek tertuju ke arah pintu masuk utama, langit sore itu juga penuh dengan lemparan-lemparan botol minuman dan batu yang terbang menghunjam, menyambut dengan hangat para Arek Malang. Yahhh ini lah pertolongan tuhan buat kami, dengan sendirinya kami pun bisa membedakan mana yang calo dan mana yang bukan sekarang. Sembari menghindar ke tepi rumah-rumah dan toko sekitar, kami pun menarik calo tersebut ke pelataran. Tawar menawar terjadi. Si Calo tetap pada pendiriannya yakni 50 ribu rupiah per lembar tiket. Itupun jumlah tiketnya tidak cukup untuk kami. Afif ahli navigator kami mati-matian menawar, sedangkan Doni teman kami mencari calo lainnya untuk mendapatkan kekurangan tiket. Dua orang Arek Surabaya ini memang Bonek Sejati. Mereka akhirnya berhasil melaksankan tugasnya masing-masing. Bahkan Afif rela menomboki kekurangan uang kami untuk membeli tiket yang akhirnya jatuh diharga 27 ribu rupiah.
Pemandangan lapangan sesaat sebelum kick off dimulai

Masalah tidak selesai disitu saja, sekarang kami binggung bagaimana cara masuk ke Stadion kebanggaan Surabaya ini. Hampir ditiap pintu masuk berjubel antrian yang semerawut tidak jelas. Ditambah lagi kekacauan yang baru saja berakhir di menit-menit kami mendapatkan tiket. Dengan jeli, Doni yang sudah terbiasa menonton di Tambaksari menuju ke pintu yang rame dikerumunin Polisi. Ternyata banyak bonek yang tetap mencoba masuk walaupun tanpa tiket, sehingga menghindari tatap muka dengan aparat keamanan tersebut. Pilihan menggunakan pintu masuk ini ternyata terbilang aman, antrian lebih pendek dan tentunya dengan penjagaan berlapis-lapis. Mungkin hanya di Tambaksari saja, penonton dilarang memakai ikat pinggang. Saya juga heran, entah kenapa setiap orang yang masuk ke stadion mesti dilucuti terlebih dahulu. Tidak hanya ikat pinggang, menyusul korek api, dan minuman mineral. Hasilnya teman-teman dan Bonekmania lainnya harus merelakan ikat pinggang mereka, yang diakhir pertandingan ternyata tidak dikembali dan menjadi rebutan para tukang becak disekitar Stadion. Beruntung bagi saya, dengan memperlihatkan kartu Pers ITS Online, saya bisa masuk mulus tanpa hambatan. Jangankan Tas dan ikat pinggang. Tiket pun tidak ditanya oleh petugas. Agak menyesal juga tadi saya beli tiket.
Menjelang Kick Off, kedua belah pihak telah bersiap-siap

Dengan perjuangan yang terbata-bata akhirnya kami masuk kedalam stadion. "Masa Allah Emak", itulah komentar pertama ketika melihat seisi Tambaksari yang penuh dengan Bonek. Wah-wah semoga tidak terjadi apa setelah selesai pertandingan. Hampir tak ada ruang di stadion ini. Di tiap sisi bangku penonton juga tersebar para petugas keamanan gabungan, dari TNI dan Polri. Bahkan dari pengumuman yang langsung dibacakan oleh manager tim Saleh Mukadar, tiket ludes habis terjual. Yang berarti 29 ribu bangku telah terisi penuh sore itu. Padahal kalau anda lihat sendiri kondisi disana, jumlah penonton melebihi angka kapasitas stadion. Belum lagi para Bonek yang berkeliaran di sekitar stadion dan tidak bisa masuk untuk menyaksikan kesebelasan kesayangan mereka tampil. Terakhir dari media online yang saya baca total ada 50 ribu bonekmania yang memadati Tambaksari sore itu. Fyuuhh benar-benar mengalahkan animo derby belladona antara Intermilan vs Ac Milan rupanya pertandingan kali ini. Sedangkan sore itu Persebaya tampil dengan kekuatan penuh, begitu juga dengan Arema dengan starting eleven mereka yang buas-buas. Persebaya dengan seragam kebanggaan berwarna hijau, serta Arema sore ini harus mengalah dengan memakai seragam away mereka yang berwarna merah. Bonek pun segera menyabut kedua tim yang beriringan memasuki lapangan. Berbagai aktraksi mereka tampilkan. Mulai dari gerakan wave hingga nyanyian pemberi semangat atau yang bisa saya bilang yel-yel pembuat ciut nyali. Terkadang dari beberapa lirik lagu itu juga tersentil kata-kata lucu yang bisa membuat anda tertawa terpingkal-pingkal di suasana yang mencengkamkan Tambaksari. Sekali lagi, ini benar keajaiban bonek yang patut anda rasakan sendiri.
Bonek Mania

Aktraksi Wave yang diperagakan oleh penonton di Tambaksari
Belum berselang 20 menit pertandingan berjalan, kedua belah tim saling melancarkan serang-serangan sporadis ala sepakbola Indonesia. Persebaya lebih mengambil alternatif penyerangan, Arema meskipun terdesak berkali-kali melakukan serangan cepat kedepan lewat striker andalannya asal Singapura M Ridwan dan Nooh Alamsyah. Laskar Bajul Ijo sore ini tampil tidak seperti biasanya. Umpan satu dua dan serangan dari sisi sayap lawan acap kali membahayakan pertahanan Arema. Namun ketangguhan lini belakangan tim singo Edan masih belum bisa ditembus. Akan tetapi benteng terakhir Arek Malang ini pun akhirnya terkoyak juga, tendangan keras terarah dari gelandang Persebaya Taufiq berhasil membuat Tambaksari terguncang, menyabut gol perdana Persebaya sore itu. Tak ayal, puluhan ribu Bonek pun bersorak-sorai gembira, mereka menari-nari, meloncat-loncat, menghidupkan petasan, dan mengangkat tinggi-tinggi bendera dan syal Persebaya. Suasana seperti ini bisa membuat anda yang tidak gemar sepakbola menjadi bak Holigan. Itulah salah satu keajaiban Bonek berserta Tambaksarinya. Merasa di atas angin, menit-menit selanjutnya menjadi milik Persebaya, beberapa kali lewat Andi Odang penyerang utama Bajul Ijo, Kurnia Mega penjaga gawang Arema harus mengambil nafas panjang akibat tendangan dan tandukan, striker gaek kelahiran Makassar ini. Sampai turun minum skor 1-0 untuk Persebaya pun tidak berubah.

Para Bonekmania menyambut gol di Tambaksari

Comments

Popular posts from this blog

Foto-Foto Terlarang Hindia Belanda

Ruas Berita di PTN Peraih Akreditasi A