Sunrise of Java, Banyuwangi



Taman Nasional Baluran
Kalau ada daerah di Jawa yang sekarang ini sedang meningkat reputasinya adalah Kota Banyuwangi. Dengan didukung oleh Pemda, Kota Banyuwangi telah bergeliat menjadi salah satu kota tujuan wisata yang mendunia, tak heran ketika penerbangan saya menuju kota yang dulunya dipercaya sebagai lokasi dari Kerajaan Blambangan ini, pesawat penuh sesak dengan bule dan wisman. Kini para penduduk Jakarta pun bisa terbang langsung ke kota ini. Sebenarnya banyak dari tujuan para wisatawan ini berada didaerah lain, namun Banyuwangi berhasil menjadi kota penghubung ke tempat-tempat wisata tersebut. Smart menurut saya, 

Ok tujuan kunjungan saya kali ini adalah Taman Nasional Baluran yang berada di Kabupaten Situbondo, dari pusat Kota Banyuwangi kita memerlukan waktu tempuh perjalanan darat kurang lebih 1 jam. Baluran terkenal dengan julukannya sebagai Africa van Java atau Little Africa, hal ini disebabkan sebaran padang savana berserta hewan-hewan liarnya seperti, Banteng, Kerbau, Rusa, Ayam Hutan hingga Macan Tutul yang bisa kita lihat bebas berkeliaran di padang-padang savana yang ada di Baluran. Hal ini disamakan dengan pemandangan yang ada di Afrika sana. Namun kini populasi hewan-hewan tersebut sudah sangat berkurang dan sangat sulit untuk ditemukan pada siang hari.
Pemandangan epic, satu pohon ditengah savana

Kerbau air yang sedang minum ditengah padang savana
Taman Nasional ini menjadi salah satu tujuan wajib bagi kalian yang menyukai alam, pasti kita semua tidak akan menyangka tempat seindah ini ada di negara kita tercinta. Rasanya tidak cukup hanya berkunjung satu hari saja ketempat ini, banyak aktivitas yang bisa kita lakukan disini, mulai dari trekking di hutan, mengamati burung serta hewan2 lainnya, hingga mendaki Gunung Baluran. Untuk fasiltas Taman Baluran sudah cukup menyediakan dan memanjakan pengunjungnya, mulai dari camping ground hingga resort-resort nyaman yang langsung berhalamankan padang savana, bagi mereka yang ingin menginap disini. Sebenarnya selain Savana Bekol yang terkenal, Baluran juga memiliki pantai, namun daya tarik dari pantai tersebut belumlah bisa mengalahkan keanggunan padang savana-nya. Saya rasa yang menjadi incaran utama pengunjung adalah pemandangan2 seperti dibawah ini.
Savana Bekol berlatar-belakang Gunung Baluran
Never Stop Exploring 


Keindahan Taman Nasional Baluran, berhasil membuat saya betah tak beranjak hingga malam hari, tanpa perencanaan yang baik saya pun mempunyai ide untuk mengambil gambar gemerlap bintang malam itu. Angin di Baluran berasa hangat pada malam hari, tidak diduga banyak hewan-hewan penghuni Baluran berkeliaran pada malam hari, jika mata saya tidak salah lihat, saya melihat sepasang Banteng Jawa dan sekelompok rusa yang berjalan mendekati ruas jalan di Baluran. Mengabadikan gambar bintang dilangit adalah kegemaran baru saya, sebenarnya Baluran bukan lokasi yang pas untuk menjpret bintang, namun sembari saya disini tidak ada salahnya saya coba, hasilnya pun cukup membuat saya berpuas diri,

Baluran malam hari

Seperti Bintang di langit
Keindahan malam itu hampir membuat saya lupa kalau saya memiliki jadwal mendaki Gunung Ijen ditemani guide local, Mas Ipul tepat tengah malam. Saya memang meminta untuk memulai pendakian Gunung Ijen ini ditengah malam dikarenakan saya sadar diri akan kondisi tubuh yang semakin tambun ini. hehehe. Saya pun bergegas kembali ke Kota Banyuwangi, karena ijen sendiri searah dengan Bondowoso, dari Banyuwangi menuju ke lokasi parkir terakhir Gunung Ijen kurang lebih 45-60 menit berkendara. Sesampainya ditempat parkir, kita harus melanjutkan perjalanan dengan berjalan kaki 3 jam hingga sampai di Kawah Ijen. Pendakian Ijen sendiri bisa dibilang susah-susah gampang, 2 Km pertama mayoritas trek adalah menanjak, dan 1 Km terakhir jalanan pun sudah lebih bersahabat. Sepanjang pendakian kita akan bersaing dengan bule-bule, namun tidak usah khawatir, mereka kecapean juga kok,hehehe. Banyak dari pengunjung Ijen ingin melihat Api Biru atau Blue Flames yang tersohor tersebut. Bahkan saking terkenalnya Blue Fames of Ijen, fenomena alam ini mengalahkan keindahan matahari terbit-nya Banyuwangi. Tak ayal, mendengar reputasi blue flames ini menjadi motivasi kuat saya untuk terus menguatkan kaki hingga tiba di Kawah Ijen. Blue flames sendiri hanya bisa disaksikan hingga pukul 05:00 dini hari, jadi kita harus bergegas untuk bisa melihat keajaiban yang hanya ada 2 di dunia ini (selain di ijen, blue flames juga terdapat di Islandia).

Night at Ijen
Pengecheckan ketinggian menggunakan Casio Protect (sepertinya harus dikalibrasi kembali)
Yang cukup menyiksa di Ijen adalah suhu yang mencapai 5 derajat ketika saya berkunjung, banyak dari pengunjung yang terpaksa turun kembali dikarenakan tidak kuat dengan dinginnya malam itu. Para guide local pun mengeluhkan semakin dinginnya Ijen di malam hari yang tidak seperti biasanya ini. Apabila suhu yang cukup dingin seperti ini maka kondisi di dasar kawah ijen yang merupakan tambang belerang tradisional bisa tidak menentu. Kondisi kawah yang sangat panas berbanding terbalik dengan suhu sekitar yang dingin, bisa menyebabkan reaksi kimia yang berbahaya bagi pengunjung. Maka saya pun memutuskan untuk melihat blue flames dari kejauhan. Asap belerang dari Ijen pun akan semakin membumbung tinggi mengikuti naiknya matahari, maka demi keselamatan, kita pun dianjurkan untuk menggunakan masker berstandar khusus, dan jam pendakian pun dibatasi hingga pukul 14:00 WIB saja. 
Kawah Ijen
Ijen yang tidak pernah sepi pengunjung
Pendakian Ijen ini bagi saya adalah perenungan akan hidup, melihat sendiri para penambang belerang yang harus bangun lebih awal dan mulai mendaki ijen ditengah malam, serta keberanian mereka mempetaruhkan nyawa demi mencari rejeki di dasar kawah ijen. Taukah teman keasaman kawah ijen serta panasnya bisa dengan cepat melarutkan tubuh manusia yang jatuh ke kawah tersebut, meskipun belum ada kasus kecelakaan seperti itu.  Mirisnya, boleh percaya atau tidak para penambang belerang ini hanya dihargai Rp 1,000.00 per kg, dan mereka harus mengambil belerang dari dasar kawah dan mengangkutnya dengan keranjang pikul turun ke lokasi parkir kendaraan, maka potongan ayat Al-Quran ini akan sangat cocok untuk pengingat diri kita "Maka nikmat Tuhan kamu yang manakah yang kamu dustakan". Siapaun yang melihat ini akan mengucapkan rasa syukur yang banyak akan nikmat yang diberikan oleh Tuhan.

Tidak sedikit para penambang tersebut, alih-alih mengambil belerang mereka pun menawarkan jasa "ojek" dengan gerobak sederhana untuk mengantarkan wisatawan turun maupun naik. Untuk sekali turun mereka biasa mendapatkan 100ribu hingga 150 ribu, untuk mendapatkan uang dengan nominal tersebut sungguh sangat berat sekali apabila harus melakukan penambangan. Lain halnya dengan tarif untuk menanjak, berkisar antara 250ribu hingga 1 juta rupiah, tidak jarang para pengunjung naik di pagi hari untuk hanya melihat panorama. Hari itu saya pun melihat 4 orang penambang yang harus menarik satu wisatawan asing, dan para guide pun berceloteh sapa dengan mereka dan menanyakan tariff yang mereka dapat, untuk menaikan bule itu mereka mendapatkan uang 1 juta rupiah yang dibagi ber-empat.


Perenungan akan hidup

Pemandangan dijalur pendakian
Perjalanan turun tidaklah terlalu berat, kurang lebih 1 jam kita akan sampai dilahan parkir kendaraan, namun tetap harus hati-hati dikarenakan kondisi jalan yang menjorok turun banyak membuat orang terpleset ataupun terjungkal. Selama perjalanan kita akan disuguhkan pemandangan alam yang luar biasa, Gunung Ijen sendiri berada di kompleks pegunungan, seperti halnya Gunung Raung, Gunung Baluran dan Gunung Merapi (Gunung Merapi di Jawa Timur), disisi lain kita bisa melihat Semeru bila cuaca cukup cerah. Mata kita berasa dicuci bersih melihat pemandangan seperti ini. 

Gunung Merah (setiap matahari terbit menyinari gunung ini membuat warna-nya berubah kemerah-merahan)
Ibarat komputer yang telah direstart ulang, maka kinerja tubuh pun berasa optimal tidak terasa capek sama sekali selama perjalanan ini, saya rasa ini hipnotis dari pesona Banyuwangi dengan Ijen-nya. Bulan-bulan Agustus seperti ini Ijen penuh sesak dengan wisatawan, entah berapa ratus orang yang naik hari itu. Lonjakan pengunjung akan lebih banyak lagi apabila memasuki akhir tahun. 
Selepas pendakian Ijen, biasanya wisatawan akan langsung dibawa kebeberapa daerah wisata yang ada disekitar, seperti Kampung Oesing (suku asli Banyuwangi) dan Kebun Kopi Kalibendo. Sebagai pencinta kopi, saya pun memutuskan untuk berkunjung ke kebun kopi yang sudah berdiri dari jaman Kolonial Belanda ini. Promosi Mas Ipul yang menginfokan kalau Kalibendo memiliki kopi robusta terbaik se-Indonesia berhasil membulatkan tekad saya untuk berkunjung.

Memasuki area perkebunan dan kantor utama Perkebunan Kalibendo, hidung saya dijejal dengan wangi-nya sangrai-an kopi, duh wangi sekali. Sebenarnya waktu itu saya pun dihidangkan dengan singkong goreng, singkong ini benar-benar luar biasa, cocok sebagai teman ngopi dipagi itu. Namun karena kalap saya tidak sempat mengambil foto dari singkong ini.hehehe. Dan kopinya walah Mak! Enak, saya akui kopi ini nikmat, salah satu yang terbaik yang pernah saya cicipi.

Mengingat jadwal terbang saya kembali ke Surabaya siang hari, saya pun tidak bisa berlama-lama di Kalibendo, sayang padahal saya ingin melihat proses pengsangraian biji kopi di pabrik ini, lain kali saya akan agendakan. Kemudian sembari meluncur ke bandara, saya pun melewati kampung oesing, suku asli dari Banyuwangi. Yang menarik disini adalah rumah suku oesing yang khas tersebut, saya pun akan agendakan kunjungan berikutnya untuk berkunjung ke salah satu rumah adat tersebut, tepat pukul 10 pagi saya tiba di Banyuwangi, saya pun menyempatkan diri untuk berbersih diri, dan melakukan persiapan untuk menuju airport. Tak terasa perut saya keroncongan, maklum hampir 24 jam terjaga dan hanya diganjal oleh beberapa potong singkong goreng di perkebunan Kalibendo tadi. Sebenarnya Banyuwangi selain indah alam, luhur budaya-nya, kuliner-nya itu loh juga bikin lidah kita menari-nari. Saya setidaknya harus mencoba menu spesial Banyuwangi dikunjungan kali ini. Maka pilihan saya jatuh ke Sego Tempong Mbok Wah atau dalam bahasa Indonesia berarti Nasi Tampar, Yah Tampar. Dinamakan demikian dikarenakan menu ini memiliki komponen utama sambal yang pedas bak menampar bibir kita. 

Bahan dasar Sego Tempong,
Selain sambal, Sego Tempong juga terdiri dari sayur kangkung, dan olahan ikan laut sebagai menu utamanya,  kalau masih kurang kita bisa minta tambah tempe-tahu hingga telur goreng. Edan, saya masih terngiang-ngiang rasa dari sego tempong ini. 
Satu hari satu malam tidaklah cukup untuk menjelajah Banyuwangi, saya pun diam-diam berikrar akan kembali lagi di kota ujung timur Jawa ini.




Comments

Popular posts from this blog

Foto-Foto Terlarang Hindia Belanda

Ruas Berita di PTN Peraih Akreditasi A